Menilik Potensi Budidaya Puyuh Petelur

96
0
SHARE

Menilik Potensi Budidaya Puyuh Petelur

Jenis puyuh yang biasa diternakkan di Indonesia berasal dari jenis Coturnix-coturnix japonica. Selanjutnya dalam upaya peningkatan mutu genetik puyuh, dilakukan seleksi pada beberapa generasi sehingga diperoleh Puyuh Padjadjaran, yang terdiri atas galur murni warna bulu cokelat dan hitam. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas telur puyuh yaitu melalui persilangan. Upaya ini dapat dilakukan dengan menyilangkan puyuh warna bulu cokelat dan hitam, sehingga terhindar dari inbreeding.

Faktor yang memengaruhi produktivitas telur yang dihasilkan puyuh selain kualitas bibit dan pakan adalah manajemen atau tata laksana pemeliharaan. Aspek penting dalam manajemen pemeliharaan di antaranya mengenai perkandangan, pemberian ransum dan air minum serta sanitasi lingkungan kandang. Kandang yang digunakan dalam budi daya puyuh terbuat dari triplek, kayu dan ram kawat, di mana kandang tersebut dibagi menjadi 3 periode yaitu kandang periode starter, grower, dan layer.

Keunggulan dari beternak puyuh petelur Padjadjaran ini adalah tidak terlalu menghabiskan modal yang besar. Modal yang digunakan untuk memulai beternak puyuh relatif kecil, dan mampu menghemat lahan karena tidak memerlukan lahan yang luas. Kandang periode starter berukuran 100 cm x 80 cm x 40 cm mampu menampung 200 ekor, kandang periode grower berukuran 200 cm x 80 cm x 40 cm mampu menampung 100 ekor, sedangkan kandang periode layer berukuran 100 cm x 60 cm x 40 cm dengan jumlah populasi 30-40 ekor.

Peralatan kandang yang digunakan di antaranya tempat ransum, tempat air minum, egg tray yang digunakan untuk menyimpan telur puyuh, mesin tetas, thermometer dan hygrometer yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembapan. Peralatan lain yang diperlukan dalam pemeliharaan puyuh adalah timbangan, generator dan lampu pijar sebagai sumber pemanas.

Menurut hasil penelitian Sudjana (2018), Total pakan yang dikonsumsi puyuh petelur betina selama 7 minggu sebanyak 619,640 gram, dengan rataan 12,65 gram per ekor per hari. Sementara total konsumsi puyuh jantan sedikit lebih rendah dari betina yaitu sebanyak 544,038 gram dengan rataan 11,10 gram per ekor per hari.

Ransum yang digunakan selama masa pemeliharaan periode starter adalah ransum komersial dari pabrik berbentuk mash. Untuk konversi ransum, nilai konversi ransum puyuh petelur selama 7 minggu mengalami nilai yang berubah-ubah setiap minggunya baik jantan maupun betina. Secara keseluruhan nilai konversi ransum puyuh petelur betina selama tujuh minggu sebesar 4,550 dan jantan sebesar 4,525. Konversi ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bobot badan, imbangan energi protein ransum, suhu lingkungan dan kesehatan.

Bila Anda Ingin Usaha Anda tanyang di Channel Kami, anda dapat mengirim Video tentang Usaha Anda ke email kami dedjoem@gmail.com atau bagi Anda yang mempunya Usaha di wilayah Kediri, Ngajuk, Blitar atau Tulungagung dan ingin Usaha Anda kami Liput, Anda dapat menghubungi kami di email dedjoem@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here