Musim Hujan, Pengrajin Gerabah di Plandaan Kurangi Produksi

12
0
SHARE

Musim Hujan, Pengrajin Gerabah di Plandaan Kurangi Produksi

Datangnya musim hujan memberi kerugian kepada perajin gerabah di Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan. Pasalnya cuaca yang sering mendung, membuat penjemuran gerabah tak bisa maksimal. Mereka pu memilih mengurangi produksi gerabah agar terhindar dari potensi kerugian.

Sunah, salah satu perajin menyebut gerabah menjadi satu-satunya sumber pendapatan warga. Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung ke rumahnya beberapa hari lalu, Sunah terlihat mengolah adonan gerabah meski saat itu hujan rintik-rintik.
Memang hampir semua perajin gerabah di desa setempat sampai sekarang produksi masih dilakukan tanpa mesin alias dengan tenaga manual. Tempatnya pun seadanya. Ada yang di pelataran rumah, ada juga di dalam rumah. Tempat produksi milik Sunah misalnya, berada di ruang tamu dengan lantai tanah liat.

Proses pembuatan gerabah hingga sebelum pembakaran dilakukan di tempat itu. ’’Kecuali kalau dijemur, ditaruh depan rumah,’’ sambung dia. Untuk itu sekarang ini rata-rata perajin mengurangi jumlah produksi. Meski tak bisa menyebut dengan rinci, dia mencontohkan untuk proses pembakaran biasanya saat musim kemarau dalam satu minggu bisa membakar hingga tiga kali.

’’Sekarang tidak tentu, terkadang satu bulan sekali. Tergantung waktunya, kalau mendung tidak buat banyak,’’ papar dia. Bukan tanpa alasan, sebab selain khawatir rusak, waktu proses penjemuran biasanya akan bertambah.

’’Dulu pernah buat banyak ternyata ada yang rusak kena air. Padahal pas buat itu tidak ada mendung,’’ ungkap Sunah. Belajar dari pengalaman, kata Sunah untuk saat ini dia tak berani memproduksi seperti kala musim kemarau. Apalagi semua proses produksi dia lakukan sendiri tanpa dibantu orang lain.

Bahan yang dipergunakan juga tak semuanya dari Jombang. Untuk pasir contohnya, didatangkan dari Kediri. ’’Pasirnya biasanya beli satu dump truk buat sekitar 10 orang di sini, patungan sama yang lain. Tanahnya ambil di kali, sementara tanah merah ini kadang dapat dari ganjaran pak lurah,’’ ungkap Sunah.

Selama ini gerabah yang dihasilkan para perajin sudah ada tengkulak yang mengambil. Mereka datang ketika semua gerabah sudah siap. Untuk harganya kata Sunah variatif. Tergantung masing-masing tengkulak.

’’Kalau saya ini diambil orang Mojokerto, biasanya layah dikasih harga Rp 3.000, sedangkan cobek tergantung ukuran. Kalau kecil Rp 2.000 sementara yang besar Rp 4.000. Nggak tahu kalau dijual di pasar berapa,’’ pungkas Sunah sembari menyebutkan dan menunjuk hasil kerajinan yang dia buat.

Bila Anda Ingin Usaha Anda tanyang di Channel Kami, anda dapat mengirim Video tentang Usaha Anda ke email kami dedjoem@gmail.com atau bagi Anda yang mempunya Usaha di wilayah Kediri, Ngajuk, Blitar atau Tulungagung dan ingin Usaha Anda kami Liput, Anda dapat menghubungi kami di email dedjoem@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here