Omset Rp 180 Juta per Bulan dari Jangkrik

117
0
SHARE

Omset Rp 180 Juta per Bulan dari Jangkrik

Di kediaman Bambang Setiawan , suasana siang tetap terasa seperti malam. Soalnya, suara jangkrik terdengar tanpa henti dari garasi di depan rumah di Desa Bakung Kidul, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon tersebut. Tidak hanya satu, namun ratusan bahkan ribuan jangkrik seolah tak kenal lelah saling bersahutan.
Sejak tiga tahun lalu, Bambang memang telah menggeluti dunia peternakan yang lain dari orang kebanyakan. Jika orang lebih banyak memilih sapi atau domba untuk diternakan, Bambang justru memilih serangga kecil berwarna coklat kehitaman itu sebagai ternak.“Saya mulai beternak jangkrik kecil-kecilan ketika beberapa tahun lalu ada bandar di desa kami,” katanya.

Semula, Bambang sebenarnya memiliki berbagai jenis usaha dari mulai berjualan plastik hingga mainan anak-anak. Namun ketika bandar jangkrik di desanya bangkrut, Bambang bukannya menghentikan usaha ternak jangkrik yang sedianya hanya sampingan. Berbekal tekad kuat, Bambang justru menghentikan semua usaha lainnya demi fokus dalam peternakan jangkrik.

Pemuda asli Cirebon yang sempat belajar di jurusan teknik sipil Institut Teknologi Bandung ini malah semakin tertantang untuk membuka sendiri pasar jangkrik. Pengalamannya selama kuliah di Bandung membuat Bambang dengan mudah bisa masuk ke pasar burung Sukahaji untuk menawarkan jangkriknya. “Alhamdulillah ternyata mereka mau menerima pasokan jangkrik saya. Dari situ saya mulai serius menggeluti peternakan jangkrik,” katanya.

Saat ini, peternakan milik Bambang bisa memproduksi 120 kilogram jangkrik alam setiap harinya. Sebanyak 60 persen hasil tersebut dijual Bambang ke Bandung.
Sementara sisanya 30 persen di jual di Wilayah III Cirebon dan 10 persen untuk pasar kecil di Purwakarta, Surabaya dan beberapa daerah lain.Bergantung wilayahnya, Bambang menjual jangkriknya seharga Rp 40.000-50.000 per kilogram.

Selain itu, Bambang juga memasarkan telur jangkrik hampir ke setiap wilayah Indonesia dari Aceh sampai Papua. Untuk satu kilogram telur jangkrik, Bambang bisa meraup penghasilan kotor sampai Rp 500.000. “Namun untuk telur, rata-rata produksinya baru sekitar 2-3 kilogram per hari,” ujarnya.

Bambang sendiri saat ini membentuk kelompok tani Trus Jaya yang beranggotakan sekitar 20 peternak jangkrik. Dalam perekrutan, Bambang dan rekan-rekannya cukup selektif memilih anggota. Hal itu dilakukan agar semua anggota memiliki kesamaan tekad untuk maju dan pantang menyerah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here