Peternak Love Bird Ini Penghasilannya 30 Juta Perbulan

11
0
SHARE

Peternak Love Bird Ini Penghasilannya 30 Juta Perbulan

Beternak love bird merupakan kegiatan mengasyikkan sekaligus mendatangkan keuntungan. Apalagi kalau ditunjang dengan keberanian membeli induk berkualitas yang berharga mahal maka hasilnya makin berlipat sehingga tak kalah dengan pendapatan eksekutif berdasi.

Jenjang harga love bird itu sangat tinggi mulai dari yang termurah warna hijau standar (josan) per ekornya cuma Rp 250 ribu sampai yang termahal mencapai puluhan juta rupiah. Itu belum termasuk kalau si burung menjuarai kontes bergengsi, maka harganya makin melangit.

“Awalnya saya ternak josan maupun pastel. Setelah dihitung ternyata cuma capek doang lantaran harga anaknya murah banget,” ujar David Candra.
“Lalu sejak empat tahun lalu semuanya saya ganti dengan materi indukan kelas menengah seperti lutino mata merah, albino mata merah, blorok, dan violet, maka keuntungan pun berlipat,” tambah David pemilik peternakan dengan kode ring Davidio BF.

Dari kegiatan peternakan yang memanfaatkan pekarangan rumah seluas 30 M2 dengan materi 30-an pasang induk, David tiap bulan memperoleh pendapatan minimal Rp 30 juta dari jualan anak love bird.
“Kerja merawat burung sambil senang-senang di rumah, tapi hasilnya tak kalah dari eksekutif kantoran yang pakai dasi keren,” ujar David yang sering ikut lomba kontes burung guna meningkatkan jaringan pasar.

Penghasilan besar itu dinikmatinya setelah dia berupaya menggenjot produksi dengan cara handfeeding atau meloloh piyik pakai tangan. “Piyik umur 10 hari disapih dari induk lalu kita loloh selama satu bulan sampai mandiri,” ungkap David sambil menambahkan bahan lolohan adalah bubur bayi yang dicampur air hangat dan vitamin, lalu dilolohkan pakai alat suntik yang sudah dimodivikasi. Umur 10 sampai 30 hari diloloh empat kali sehari sedangkan usia di atasnya cukup dua kali sehari.

“Seminggu setelah piyik diambil, biasanya induk mulai bertelur lagi umumnya empat butir. Dengan demikian, produksi bisa meningkat dua kali lipat dibanding cara alami. Dengan cara lolohan, siklus produksi dapat dipersingkat menjadi tiap 45 hari. Sedangkan cara alami, siklus produksi per tiga bulan,” jelas David.

Dari pabrik burung yang dikelolanya tiap bulan rata-rata menghasilkan 30 ekor hidup. Anak yang sudah mandiri atau remaja seekornya dijual mulai dari harga Rp 750 ribu untuk lutino mata merah, sampai Rp 2 jutaan untuk blorok. Untuk pemasaran David mengandalkan jaringan relasi komunitas pencinta burung termasuk even lomba dan secara berkala beriklan di media online.

Bila Anda Ingin Usaha Anda tanyang di Channel Kami, anda dapat mengirim Video tentang Usaha Anda ke email kami dedjoem@gmail.com atau bagi Anda yang mempunya Usaha di wilayah Kediri, Ngajuk, Blitar atau Tulungagung dan ingin Usaha Anda kami Liput, Anda dapat menghubungi kami di email dedjoem@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here